Rabu, 19 September 2012

ini yg membuatku sulit....

langkah demi langkah sudah ku mantapkan, setiap pikiran atau ingatanmu sudah ku buang mentah-mentah. tapi selalu sajaa... keingintahuanku, kepekaan perasaanku tak bisa luput darimu. iya kamu. mantanku. yang sudah membuang aku. membuang cinta kita begitu saja.

HAHAHA!!
aku.... ya aku.
hanya cewek bego nan tolol yang masih saja tak bisa melupakannya.
iya tolol banget aku. saat dia sedang asyik dengan pacar barunya.
aku hanya bisa menahan tangis dan menyimpulkan sebaris senyum palsu dihadapan semuanya.
ini berat, ini sulit.

mungkin ini sudah hampir 3bulan aku melaluinya. tapi ini tidak mudah. tidak semudah yang aku bayangkan.
tapi kamu? sudah tak pedulikan keadaanku.

bagaimana endingnya sekarang? aku masih sering men-stalk socmed-mu. mencek keadaanmu dan pacar barumu. ini sakit. tapi aku tak bisa menghilangkan rasa kepo dari hati ini. sial memang.

semoga Tuhan tau, aku butuh kebahagiaan sekarang.
dan kau butuh melupakanmu atau sekedar mencari penggantimu agar pikiranku tak hanya tertuju padamu. ini maksudku.
inti dari semua permasalahanku.

tapi bagaimana aku bisa menjalin dengan yang baru kalau aku masih menyayangimu?
aku masih mencintaimu?
dan begitu menggilaimu?

ini gila. hal gila yang baru ku alami.
dulu aku tak sampai begini.
aku tak sesering menangisi yang sudah lewat, dan hanya mencoba sabar.

tapi kali ini? aku sangat tidak terima keputusanmu.
aku belum bisa menerima apa yg harus aku jalani.
dan ini akhirnya. aku (masih) berada di antara kamu dan dia yang sedang berbahagia.



Jakarta, 20 September 2012
Cintaku nyata.


-Intan

Kamis, 06 September 2012

Kenangan! #End


            Kami berjalan menuju basement. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 21 lewat 30 malam. Padahal besok aku masih ujian semesteran tertulis. Tapi tak ku pikirkan hari esok. Kami masuk mobil, dia menyalakan mesinnya. “Kak, gue hari ini seneng banget loh!” kataku sok manja dan ku letakkan kembali kepalaku dipundaknya, “Iya dew, gue juga seneng banget hari ini”. Dia mengelus pipiku lembut. Rasanya aku tidak mau melewatkan tiap detik aku bersamanya. Hanya perlu berada didekatnya saja aku sudah sangat bahagia. Aku bangun. Kepalaku menghampiri pipinya. Ku kecup pipinya. “Tuhan, aku sayang dia. Aku cinta dia. Jika memang ini yg terbaik maka permudahlah. Namun, jika bukan. Persulitlah. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” selalu itu yg aku ucapkan setiap aku berdoa.
            Dia kaget, aku hanya tersenyum manja, “Yuk pulang, besok kan gue masih Ujian, hahaha” kataku sambil memasang Safety Belt. “Okeee! Tancapp!” katanya. Dia mengemudikan kearah rumahku. “Oiya, nanti gue mau ketemu nyokap lo dulu ya. Gaenak gue ngajak lo jalan pulang malem terus tapi gapernah ketemu nyokap lo”. Aku menoleh, “Oke siap bos hehehe”. Dia mencubit pipiku. “Awww sakit tauu!” aku membalas mencubit tangannya. Tak lama kemudian kami sampai dijalanan rumahku. Dia memarkirkan mobilku diluar gang.
            Kami sama-sama turun, lalu aku mengambil tas dan keluar. Sambil menggandeng tangannya kami berjalan menuju rumahku. “Assalamu’alaikum…” aku membuka pagar dan ku ketuk pintu rumah. Mama membukanya, “Mah, ada Kak Roni mau ketemu dulu katanya”. Mama keluar, “Yuk masuk dulu” kata mama, “Duh tante, gausah. Saya cuma mau bilang aja maaf ngajak Dewi keluar malem terus nih. Dan maaf juga baru bisa ketemu tante sekarang” ucapnya penuh kesopanan. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri melihat pacarku begitu gentle menghadapi mama.
            “Iya gapapa kok. Asal si Dewi ijin sama tante mah pasti tante bolehin. Apalagi jalannya sama kamu. Tante gapapa”. Kulihat senyum tersimpul dr wajah Roni. “yaudah tante saya pamit dulu ya. Udah malem juga”. Roni cium tangan mamaku. “aku mau anterin Roni dulu ya mah kedepan” mama hanya meng-iyakan. Mama menutup pintu, aku keluar dari pagar. “Hari ini full banget ya. Makasih udah nemenin gue ke Toko Buku. Udah beliin bukunya. Dan udah nganterin gue balik” ucapku padanya. Roni tersenyum. Aku mengantarnya sampai ujung gang. Kami berhenti. Aku memandangnya, dia memandangku. Lalu, dia mencium keningku. Aku tersipu. “Makasih banget ya dew buat malam yg indah ini. Walaupun cuma jemput lo pulang sekolah, gue ga nyangka bakal seindah ini”.  Aku tersenyum, lagi-lagi aku telah melewati beberapa waktu bersama dia.
            “udah sana pulang. Udah malem nih. Nanti lo dicariin nyokap lo kak”. Dia menurut, seperti biasa. Kalo dia berpamitan, aku selalu mencium tangannya. Entahlah. Tapi itu caraku menghormatinya. Dia masuk kedalam mobil, lalu membuka kaca, “gue pulang ya Dew, daaah” ucapnya sambil melambaikan tangan. Aku melambaikan tangan juga padanya. Dia berlalu dan aku masuk kerumah lagi.
            Tapi sayang, saat aku menulis cerpen ini, hubungan kami sudah tidak lagi terjalin. Kami sudah memutuskan untuk berpisah. Tapi kami masih menjaga agar hubungan kami tetap baik. Dan aku masih melewati waktu-waktu yang sangat sulit ku lalui tanpa dia. Sebuah keputusan yg cukup menyakitkan. Tapi yasudahlah, itu sudah menjadi keputusan kami. Terhitung dari saat kami putus, ini adalah bulan kedua yg ku lalui tanpa dia. Tapi, aku harus mampu melewatinya. Aku harus bisa tanpa dia . Sulit memang, tapi aku harus melakukannya. Karna cepat atau lambat kami pasti akan berpisah. Mamaku sangat menyayangkan hubungan kami yg sudah berakhir. Tapi ya sudahlah




With all this pain,
Intan♥

Kenangan! #Part2


          Tiba-tiba tak ku sangka, Roni meraih tanganku. Lalu dia menaruh tanganku diperseneling sambil dia memeganginya. Kurasakan dinginnya tangan Roni juga dingin sifatnya. Saat itu yg aku rasakan hanya kelembutan tangannya. Jantungku berdegup makin cepat. Tak lama dia melepaskan tangannya. Aku tersipu. Aku menyender dibahunya. Aku merasa sangat sempurna dan sangat beruntung telah memilikinya saat itu.
            Entah apa yg bisa membuat kami menjadi sepasang kekasih. Aku pun tak mengerti.  Semua terjadi begitu cepat. “Dew, mau makan apa kita?” tanyanya pelan. Aku gugup. Masih terbayang wajahnya yg dingin saat memegang tanganku tadi. Aku tak menjawab pertanyaannya. Dia mengulang “Hei? Mau makan apa dew?" Dia menatapku. Tak sengaja pandanganku mengarah keluar mobil. Di sebelah kanan jalan ada bis yg ingin menyerempet kea rah mobil Roni, “Ron, awas itu di kanan!!!!” ujarku keras karna kaget. Dia langsung mengarahkan setir kea rah kiri. Tidak keras memang. Namun, karena jalanan sangat padat. Kami menabrak sebuah motor. Memang tidak cukup keras. Namun, ku lihat wajah pengendara motor itu terlihat sangat marah.
            Aku memalingkan wajah untuk melihat wajahnya Roni, dia tampak panik. Raut wajahnya berubah. Dari sikap acuh tak acuh menjadi tegang. Aku tak tega. Ku tenangkan dia. Aku elus pundaknya yg hangat agar suasana hatinya berubah. Sesekali aku pegang tangannya sambil terus menghiburnya. “Udah ya Ron jangan dipikirin, itukan cuma kecelakaan semuanya juga pernah ngerasain kok”. Roni tersenyum hangat padaku. Ku balas dengan lebih hangat. Aku meletakkan kembali kepalaku dibahunya, dia membelai mesra rambutku. “Kita makan di Solaria aja ya Ron”. Ucapku pelan. Roni hanya mengangguk setuju.
            Ya sekitar 45menit kami sampai di tempat tujuan. Roni seperti biasa parkir di basement. Suasana basement sangat sepi. Aku menghela nafas lega. Fyuh. Roni turun duluan, aku menyusul dibelakang. Kami menyusuri pertokoan yg ada di Mall tersebut. Kami sampai di Solaria. Aku pilih kursi yg diluar. Roni memesan makanan. Aku juga. Saat itu aku memesan Kwetiau Goreng dan Es teh manis, kalau Roni lebih memilih untuk memesan Nasi Fuyunghai minumnya sama sepertiku.
            Tak lama kemudian pesanan datang, kami langsung menyantapnya. “Dew, kok meja sebelah ngelirik sinis terus ya ke kita?” ucap Roni padaku sambil berbisik. Aku menoleh sebentar kearah meja yg ditunjuk Roni. Memang. Orang yg ada dimeja itu baru saja membuang mukanya dari arah meja kami berdua. “Gatau deh Ron, ngiri kali gabisa pacaran kayak kita. Hahaha” candaku padanya. Dia hanya tersenyum kecil. “Yuk kita makan yuk dew”. Aku menurut. Sambil makan, banyak obrolan yg kami bahas, dari hal yg penting sampai yg tidak penting sekalipun. Kami juga membahas tentang perjalanan kami waktu ke Purwakarta 2 pekan lalu.
            Tiba-tiba lewatlah sepasang kekasih, mereka bergandengan tangan mesra. Perempuan itu menggunakan celana Hotpants. Aku meliriknya, lalu aku bertanya pada Roni, “Ron, kalo gue pake celana kayak gitu, reaksi lo gimana?”. Roni langsung melihat ke arah yg ku maksud. “Oh itu, lo mau gue gampar dew? Kalo mau sih silahkan aja”. Katanya singkat. Aku hanya diam. Menatapnya sambil tersenyum. “Hahaha serius Ron?” aku menggodanya, “Iyalah dew, kalo lo kayak gitu keliatan murahan bgt. Lagipula tolol aja cowoknya, ceweknya gitu bukannya ditegur” ucapnya sewot. “waktu kemaren lo pake celana pendek yg selutut itu gue sebenernya geregetan tau ga sih dew”. Aku masih terdiam sambil terus memandangi wajahnya.
            Aku melanjutkan makan Kwetiau-ku. Baru setengah piring aku makan, tapi aku sudah kekenyangan. Jadi aku menghabiskan Es Tea yg ku pesan saja. “Loh kok ga abis dew?” tanya Roni. “gue udah kenyang banget nih, kalo dipaksain malah muntah lagi”. Jawabanku tidak membuatnya puas, ada sedikit raut wajah kecewa yg terlihat dari wajahnya. “Yaudah sini gue makan dew”. Ku sodorkan piringku padanya. Baru 3 suap. Dia berhenti. “Kok ga diabisin aja Ron?” kali ini aku yg bertanya. “Haha gapapa kok, kwetiau-nya agak gosong ya? Yaudah kalo gamau dilanjutin makannya, daripada eneg”. Aku hanya mengangguk. Dia meneguk sisa Es Tea digelasnya. Lalu memanggil waiter dan meminta bill pembayaran.
            “Yah duitnya lupa gue bawa lagi” ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya. “Trus mau gimana? Mau gue ambilin atau gimana nih?” tanyaku. “Oh gausah dew, yg gue maksud itu duit kembalian tadi. Kan sayang kalo mesti dipecahin lagi” katanya sambil mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000,- an lagi. “Duh ngerepotin banget ya gue”. Roni hanya menoleh padaku. Tak lama setelah waiter memberi kembalian, kami langsung pulang. “Udah gausah dipikirin ya, yg penting kita hari ini seneng-seneng”, ucapnya sambil mengelus-ngelus rambutku. Aku… hanya bisa terdiam, kaku. Tidak bisa mengatakan apapun. Aku hanya merasakan aku beruntung bisa memilikinya.


***Bersambung***

Selasa, 04 September 2012

Kenangan! #Part1


Jakarta, 7 Juni 2012.

            Hari pertama Ujian Semester yg akan aku hadapi. Tak hanya teori hari ini, tapi aku harus ujian praktek Seni budaya juga. Fuh. Tegangnya. Walaupun ada yg menyemangatiku dari jauh. Iya dia. Kekasihku. Roni namanya, aku dan dia memang baru menjalani hubungan ini. Ya belum genap sebulan lah kami berpacaran. Dia terus menyemangati dari awal aku berangkat sekolah. Rencananya, hari ini aku dan dia mau ke Toko Buku Gramedia, ya sekalian baca buku untuk bahanku presentasi fotografi besok.
            Tepat pukul 11, ujian teoriku selesai. *Jengjeng* tinggal ujian prakteknya. Aku grogi. Aku gugup. Fuh. Ku tarik nafas dalam-dalam. Tepat pukul 13.00 WIB, ujian praktek itu akan dilaksanakan. Aku masih punya waktu untuk menghapal beberapa gerakan, “Dew, ayok giliran kelompok kita nih”. Zahra memanggilku. Dia leader kelompok kami. Dugdugdug suara jantungku berdegup makin cepat.

***
            “Fyuh, akhirnya kita bisa nyelesein semuanya sukses ya!” Ucap ketua kelasku, Reva. Roni sudah daritadi menungguku di gerbang. Entahlah, mungkin dia sudah mulai bosan menungguku. Aku menunggu hingga kelasku selesai berfoto. Setelah semua acara selesai, aku pamit pulang. Aku keluar gerbang bersama temanku, Sofi. “Sof, caw yuk sekarang, Roni udh nunggu gue daritadi. Gaenak nih. Gue juga takut kemaleman”. Sofi hanya mengangguk dan mengikutiku. Kami keluar lapangan sekolah menuju gerbang. Ternyata di madding dekat pos satpam ada hal yg menarik untuk Sofi liat, sehingga Sofi berminat untuk membacanya. Aku meninggalkan Sofi. “Sof, gue duluan yaaaa. Kasian Roni udh nungguin”. Ucapku sambil meninggalkannya, “oke dew, lo hati-hati yaaa”. Aku berjalan menjauh dr madding sekolah. Tak jauh dr halte, ku lihat mobil Nissan Grand Livina silver parkir disana, “nah! Itu dia” ucapku dalam hati.
            Ku buka pintu mobilnya, dan ku lihat senyum merekah dibibirnya. Manisnya. Pikirku dalam hati. “Hai! Udah lama nunggu ya? Maaf ya. Tadi ada rapat dulu soalnya”. Kataku sambil memasuki mobil, aku menutup pintu. Dia pun menyalakan mobil. “ngga kok, hehe lo udah makan?”, ucapnya sambil mengendarai mobil itu menuju tempat tujuan kami. Aku hanya menggeleng. “kenapa belum makan dew?” tanyanya lagi. “tadi ga sempet Ron. Hehe. Lo udah kan?”. Aku balik bertanya. “udah kok tadi pas mau kesini makan dulu. Nanti makan ya”. Aku hanya mengangguk. Ku setel playlist yg ada di playernya. Untuk menemani perjalanan kami. Tak lama memang. Cukup 45 menit untuk sampai.
            Kami parkir di basement. Karna parkiran atas penuh. Setelah Roni memarkirkan mobilnya, kami turun. Memang inilah hubungan kami. Sangat dingin. Ini semua karna Roni baru 2kali berpacaran sampai saat ini. Makanya, aku tak heran jika sikapnya dingin dan kaku padaku. Kami langsung ke lantai 2 mencari buku fotografi yg aku cari. Aku membaca 2 buku. Ku buka setiap halamannya. Karna memang saat itu aku sedang tidak membawa uang lebih. Jadi, ku putuskan hanya membaca saja. Ketika jam sudah menunjukan pukul 5 lewat 30 menit, Roni bertanya padaku, “Dew, lo udah selesai belum? Kalo udah yuk cabut. Kan lo juga belom makan”. Aku hanya nurut dan mengembalikan buku yg ku baca tadi ke rak semula. Namun, tiba-tiba Roni mengambil 1 buku yg masih di plastik rapid an menyuruhku memegangnya, “Nih pegang, kita ke kasir. Bayar. Trus pulang ya” katanya sambil mendorong bahuku meninggalkan rak fotografi itu.
                        “Hah? Apaan sih? Duit gue ga cukup tau. Gue jg ga niat mau beli sekarang” ucapku padanya. Namun dia tak menghiraukannya, dia terus mendorongku hingga sampai di kasir. Dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang pecahan Rp. 100.000,- an. Aku kaget. Entah ini yg keberapa kalinya dia mengeluarkan lembar seratus ribu itu dalam minggu ini hanya untuk jalan denganku. Aku merasa sangat merepotkannya. Setelah selesai dari kasir, kami langsung ke basement. Dan meninggalkan gramedia untuk makan. Yak! Ketika kami keluar, macet panjang sudah menunggu kami. Huh. Betenya.


***Bersambung***