langkah demi langkah sudah ku mantapkan, setiap pikiran atau ingatanmu sudah ku buang mentah-mentah. tapi selalu sajaa... keingintahuanku, kepekaan perasaanku tak bisa luput darimu. iya kamu. mantanku. yang sudah membuang aku. membuang cinta kita begitu saja.
HAHAHA!!
aku.... ya aku.
hanya cewek bego nan tolol yang masih saja tak bisa melupakannya.
iya tolol banget aku. saat dia sedang asyik dengan pacar barunya.
aku hanya bisa menahan tangis dan menyimpulkan sebaris senyum palsu dihadapan semuanya.
ini berat, ini sulit.
mungkin ini sudah hampir 3bulan aku melaluinya. tapi ini tidak mudah. tidak semudah yang aku bayangkan.
tapi kamu? sudah tak pedulikan keadaanku.
bagaimana endingnya sekarang? aku masih sering men-stalk socmed-mu. mencek keadaanmu dan pacar barumu. ini sakit. tapi aku tak bisa menghilangkan rasa kepo dari hati ini. sial memang.
semoga Tuhan tau, aku butuh kebahagiaan sekarang.
dan kau butuh melupakanmu atau sekedar mencari penggantimu agar pikiranku tak hanya tertuju padamu. ini maksudku.
inti dari semua permasalahanku.
tapi bagaimana aku bisa menjalin dengan yang baru kalau aku masih menyayangimu?
aku masih mencintaimu?
dan begitu menggilaimu?
ini gila. hal gila yang baru ku alami.
dulu aku tak sampai begini.
aku tak sesering menangisi yang sudah lewat, dan hanya mencoba sabar.
tapi kali ini? aku sangat tidak terima keputusanmu.
aku belum bisa menerima apa yg harus aku jalani.
dan ini akhirnya. aku (masih) berada di antara kamu dan dia yang sedang berbahagia.
Jakarta, 20 September 2012
Cintaku nyata.
-Intan
Rabu, 19 September 2012
Kamis, 06 September 2012
Kenangan! #End
Kami
berjalan menuju basement. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 21 lewat 30
malam. Padahal besok aku masih ujian semesteran tertulis. Tapi tak ku pikirkan
hari esok. Kami masuk mobil, dia menyalakan mesinnya. “Kak, gue hari ini seneng
banget loh!” kataku sok manja dan ku letakkan kembali kepalaku dipundaknya,
“Iya dew, gue juga seneng banget hari ini”. Dia mengelus pipiku lembut. Rasanya
aku tidak mau melewatkan tiap detik aku bersamanya. Hanya perlu berada
didekatnya saja aku sudah sangat bahagia. Aku bangun. Kepalaku menghampiri pipinya.
Ku kecup pipinya. “Tuhan, aku sayang dia. Aku cinta dia. Jika memang ini yg terbaik maka
permudahlah. Namun, jika bukan. Persulitlah. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana” selalu itu yg aku ucapkan setiap aku
berdoa.
Dia
kaget, aku hanya tersenyum manja, “Yuk pulang, besok kan gue masih Ujian,
hahaha” kataku sambil memasang Safety Belt. “Okeee! Tancapp!” katanya. Dia
mengemudikan kearah rumahku. “Oiya, nanti gue mau ketemu nyokap lo dulu ya.
Gaenak gue ngajak lo jalan pulang malem terus tapi gapernah ketemu nyokap lo”. Aku
menoleh, “Oke siap bos hehehe”. Dia mencubit pipiku. “Awww sakit tauu!” aku
membalas mencubit tangannya. Tak lama kemudian kami sampai dijalanan rumahku.
Dia memarkirkan mobilku diluar gang.
Kami
sama-sama turun, lalu aku mengambil tas dan keluar. Sambil menggandeng
tangannya kami berjalan menuju rumahku. “Assalamu’alaikum…” aku membuka pagar
dan ku ketuk pintu rumah. Mama membukanya, “Mah, ada Kak Roni mau ketemu dulu
katanya”. Mama keluar, “Yuk masuk dulu” kata mama, “Duh tante, gausah. Saya
cuma mau bilang aja maaf ngajak Dewi keluar malem terus nih. Dan maaf juga baru
bisa ketemu tante sekarang” ucapnya penuh kesopanan. Aku hanya tersenyum-senyum
sendiri melihat pacarku begitu gentle menghadapi mama.
“Iya
gapapa kok. Asal si Dewi ijin sama tante mah pasti tante bolehin. Apalagi
jalannya sama kamu. Tante gapapa”. Kulihat senyum tersimpul dr wajah Roni.
“yaudah tante saya pamit dulu ya. Udah malem juga”. Roni cium tangan mamaku.
“aku mau anterin Roni dulu ya mah kedepan” mama hanya meng-iyakan. Mama menutup
pintu, aku keluar dari pagar. “Hari ini full banget ya. Makasih udah nemenin
gue ke Toko Buku. Udah beliin bukunya. Dan udah nganterin gue balik” ucapku
padanya. Roni tersenyum. Aku mengantarnya sampai ujung gang. Kami berhenti. Aku
memandangnya, dia memandangku. Lalu, dia mencium keningku. Aku tersipu.
“Makasih banget ya dew buat malam yg indah ini. Walaupun cuma jemput lo pulang
sekolah, gue ga nyangka bakal seindah ini”. Aku tersenyum, lagi-lagi aku telah melewati beberapa waktu
bersama dia.
“udah
sana pulang. Udah malem nih. Nanti lo dicariin nyokap lo kak”. Dia menurut,
seperti biasa. Kalo dia berpamitan, aku selalu mencium tangannya. Entahlah.
Tapi itu caraku menghormatinya. Dia masuk kedalam mobil, lalu membuka kaca,
“gue pulang ya Dew, daaah” ucapnya sambil melambaikan tangan. Aku melambaikan
tangan juga padanya. Dia berlalu dan aku masuk kerumah lagi.
Tapi
sayang, saat aku menulis cerpen ini, hubungan kami sudah tidak lagi terjalin.
Kami sudah memutuskan untuk berpisah. Tapi kami masih menjaga agar hubungan
kami tetap baik. Dan aku masih melewati waktu-waktu yang sangat sulit ku lalui
tanpa dia. Sebuah keputusan yg cukup menyakitkan. Tapi yasudahlah, itu sudah
menjadi keputusan kami. Terhitung dari saat kami putus, ini adalah bulan kedua
yg ku lalui tanpa dia. Tapi, aku harus mampu melewatinya. Aku harus bisa tanpa
dia ☺.
Sulit memang, tapi aku harus melakukannya. Karna cepat atau lambat kami pasti akan
berpisah. Mamaku sangat menyayangkan hubungan kami yg sudah berakhir.
Tapi ya sudahlah ☺
With
all this pain,
Intan♥
Kenangan! #Part2
Tiba-tiba tak ku sangka, Roni meraih tanganku. Lalu dia
menaruh tanganku diperseneling sambil dia memeganginya. Kurasakan dinginnya
tangan Roni juga dingin sifatnya. Saat itu yg aku rasakan hanya kelembutan
tangannya. Jantungku berdegup makin cepat. Tak lama dia melepaskan tangannya.
Aku tersipu. Aku menyender dibahunya. Aku merasa sangat sempurna dan sangat
beruntung telah memilikinya saat itu.
Entah
apa yg bisa membuat kami menjadi sepasang kekasih. Aku pun tak mengerti. Semua terjadi begitu cepat. “Dew, mau
makan apa kita?” tanyanya pelan. Aku gugup. Masih terbayang wajahnya yg dingin
saat memegang tanganku tadi. Aku tak menjawab pertanyaannya. Dia mengulang
“Hei? Mau makan apa dew?" Dia menatapku. Tak sengaja pandanganku mengarah keluar
mobil. Di sebelah kanan jalan ada bis yg ingin menyerempet kea rah mobil Roni,
“Ron, awas itu di kanan!!!!” ujarku keras karna kaget. Dia langsung mengarahkan
setir kea rah kiri. Tidak keras memang. Namun, karena jalanan sangat padat.
Kami menabrak sebuah motor. Memang tidak cukup keras. Namun, ku lihat wajah
pengendara motor itu terlihat sangat marah.
Aku
memalingkan wajah untuk melihat wajahnya Roni, dia tampak panik. Raut wajahnya
berubah. Dari sikap acuh tak acuh menjadi tegang. Aku tak tega. Ku tenangkan
dia. Aku elus pundaknya yg hangat agar suasana hatinya berubah. Sesekali aku
pegang tangannya sambil terus menghiburnya. “Udah ya Ron jangan dipikirin,
itukan cuma kecelakaan semuanya juga pernah ngerasain kok”. Roni tersenyum
hangat padaku. Ku balas dengan lebih hangat. Aku meletakkan kembali kepalaku
dibahunya, dia membelai mesra rambutku. “Kita makan di Solaria aja ya Ron”.
Ucapku pelan. Roni hanya mengangguk setuju.
Ya
sekitar 45menit kami sampai di tempat tujuan. Roni seperti biasa parkir di
basement. Suasana basement sangat sepi. Aku menghela nafas lega. Fyuh. Roni
turun duluan, aku menyusul dibelakang. Kami menyusuri pertokoan yg ada di Mall
tersebut. Kami sampai di Solaria. Aku pilih kursi yg diluar. Roni memesan makanan.
Aku juga. Saat itu aku memesan Kwetiau Goreng dan Es teh manis, kalau Roni
lebih memilih untuk memesan Nasi Fuyunghai minumnya sama sepertiku.
Tak
lama kemudian pesanan datang, kami langsung menyantapnya. “Dew, kok meja
sebelah ngelirik sinis terus ya ke kita?” ucap Roni padaku sambil berbisik. Aku
menoleh sebentar kearah meja yg ditunjuk Roni. Memang. Orang yg ada dimeja itu
baru saja membuang mukanya dari arah meja kami berdua. “Gatau deh Ron, ngiri
kali gabisa pacaran kayak kita. Hahaha” candaku padanya. Dia hanya tersenyum
kecil. “Yuk kita makan yuk dew”. Aku menurut. Sambil makan, banyak obrolan yg
kami bahas, dari hal yg penting sampai yg tidak penting sekalipun. Kami juga
membahas tentang perjalanan kami waktu ke Purwakarta 2 pekan lalu.
Tiba-tiba
lewatlah sepasang kekasih, mereka bergandengan tangan mesra. Perempuan itu
menggunakan celana Hotpants. Aku meliriknya, lalu aku bertanya pada Roni, “Ron,
kalo gue pake celana kayak gitu, reaksi lo gimana?”. Roni langsung melihat ke
arah yg ku maksud. “Oh itu, lo mau gue gampar dew? Kalo mau sih silahkan aja”.
Katanya singkat. Aku hanya diam. Menatapnya sambil tersenyum. “Hahaha serius
Ron?” aku menggodanya, “Iyalah dew, kalo lo kayak gitu keliatan murahan bgt.
Lagipula tolol aja cowoknya, ceweknya gitu bukannya ditegur” ucapnya sewot.
“waktu kemaren lo pake celana pendek yg selutut itu gue sebenernya geregetan
tau ga sih dew”. Aku masih terdiam sambil terus memandangi wajahnya.
Aku
melanjutkan makan Kwetiau-ku. Baru setengah piring aku makan, tapi aku sudah
kekenyangan. Jadi aku menghabiskan Es Tea yg ku pesan saja. “Loh kok ga abis
dew?” tanya Roni. “gue udah kenyang banget nih, kalo dipaksain malah muntah
lagi”. Jawabanku tidak membuatnya puas, ada sedikit raut wajah kecewa yg
terlihat dari wajahnya. “Yaudah sini gue makan dew”. Ku sodorkan piringku
padanya. Baru 3 suap. Dia berhenti. “Kok ga diabisin aja Ron?” kali ini aku yg
bertanya. “Haha gapapa kok, kwetiau-nya agak gosong ya? Yaudah kalo gamau
dilanjutin makannya, daripada eneg”. Aku hanya mengangguk. Dia meneguk sisa Es
Tea digelasnya. Lalu memanggil waiter dan meminta bill pembayaran.
“Yah
duitnya lupa gue bawa lagi” ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya. “Trus mau
gimana? Mau gue ambilin atau gimana nih?” tanyaku. “Oh gausah dew, yg gue maksud
itu duit kembalian tadi. Kan sayang kalo mesti dipecahin lagi” katanya sambil
mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000,- an lagi. “Duh ngerepotin banget ya
gue”. Roni hanya menoleh padaku. Tak lama setelah waiter memberi kembalian,
kami langsung pulang. “Udah gausah dipikirin ya, yg penting kita hari ini
seneng-seneng”, ucapnya sambil mengelus-ngelus rambutku. Aku… hanya bisa
terdiam, kaku. Tidak bisa mengatakan apapun. Aku hanya merasakan aku beruntung
bisa memilikinya.
***Bersambung***
Selasa, 04 September 2012
Kenangan! #Part1
Jakarta, 7 Juni 2012.
Hari
pertama Ujian Semester yg akan aku hadapi. Tak hanya teori hari ini, tapi aku
harus ujian praktek Seni budaya juga. Fuh. Tegangnya. Walaupun ada yg
menyemangatiku dari jauh. Iya dia. Kekasihku. Roni namanya, aku dan dia memang baru
menjalani hubungan ini. Ya belum genap sebulan lah kami berpacaran. Dia terus
menyemangati dari awal aku berangkat sekolah. Rencananya, hari ini aku dan dia
mau ke Toko Buku Gramedia, ya sekalian baca buku untuk bahanku presentasi
fotografi besok.
Tepat
pukul 11, ujian teoriku selesai. *Jengjeng*
tinggal ujian prakteknya. Aku grogi. Aku gugup. Fuh. Ku tarik nafas
dalam-dalam. Tepat pukul 13.00 WIB, ujian praktek itu akan dilaksanakan. Aku
masih punya waktu untuk menghapal beberapa gerakan, “Dew, ayok giliran kelompok
kita nih”. Zahra memanggilku. Dia leader kelompok kami. Dugdugdug suara
jantungku berdegup makin cepat.
***
“Fyuh,
akhirnya kita bisa nyelesein semuanya sukses ya!” Ucap ketua kelasku, Reva.
Roni sudah daritadi menungguku di gerbang. Entahlah, mungkin dia sudah mulai
bosan menungguku. Aku menunggu hingga kelasku selesai berfoto. Setelah semua
acara selesai, aku pamit pulang. Aku keluar gerbang bersama temanku, Sofi.
“Sof, caw yuk sekarang, Roni udh nunggu gue daritadi. Gaenak nih. Gue juga
takut kemaleman”. Sofi hanya mengangguk dan mengikutiku. Kami keluar lapangan
sekolah menuju gerbang. Ternyata di madding dekat pos satpam ada hal yg menarik
untuk Sofi liat, sehingga Sofi berminat untuk membacanya. Aku meninggalkan
Sofi. “Sof, gue duluan yaaaa. Kasian Roni udh nungguin”. Ucapku sambil
meninggalkannya, “oke dew, lo hati-hati yaaa”. Aku berjalan menjauh dr madding
sekolah. Tak jauh dr halte, ku lihat mobil Nissan Grand Livina silver parkir
disana, “nah! Itu dia” ucapku dalam hati.
Ku
buka pintu mobilnya, dan ku lihat senyum merekah dibibirnya. Manisnya. Pikirku
dalam hati. “Hai! Udah lama nunggu ya? Maaf ya. Tadi ada rapat dulu soalnya”.
Kataku sambil memasuki mobil, aku menutup pintu. Dia pun menyalakan mobil.
“ngga kok, hehe lo udah makan?”, ucapnya sambil mengendarai mobil itu menuju
tempat tujuan kami. Aku hanya menggeleng. “kenapa belum makan dew?” tanyanya
lagi. “tadi ga sempet Ron. Hehe. Lo udah kan?”. Aku balik bertanya. “udah kok
tadi pas mau kesini makan dulu. Nanti makan ya”. Aku hanya mengangguk. Ku setel
playlist yg ada di playernya. Untuk menemani perjalanan kami. Tak lama memang.
Cukup 45 menit untuk sampai.
Kami
parkir di basement. Karna parkiran atas penuh. Setelah Roni memarkirkan
mobilnya, kami turun. Memang inilah hubungan kami. Sangat dingin. Ini semua
karna Roni baru 2kali berpacaran sampai saat ini. Makanya, aku tak heran jika
sikapnya dingin dan kaku padaku. Kami langsung ke lantai 2 mencari buku
fotografi yg aku cari. Aku membaca 2 buku. Ku buka setiap halamannya. Karna
memang saat itu aku sedang tidak membawa uang lebih. Jadi, ku putuskan hanya
membaca saja. Ketika jam sudah menunjukan pukul 5 lewat 30 menit, Roni bertanya
padaku, “Dew, lo udah selesai belum? Kalo udah yuk cabut. Kan lo juga belom
makan”. Aku hanya nurut dan mengembalikan buku yg ku baca tadi ke rak semula.
Namun, tiba-tiba Roni mengambil 1 buku yg masih di plastik rapid an menyuruhku
memegangnya, “Nih pegang, kita ke kasir. Bayar. Trus pulang ya” katanya sambil
mendorong bahuku meninggalkan rak fotografi itu.
“Hah?
Apaan sih? Duit gue ga cukup tau. Gue jg ga niat mau beli sekarang” ucapku
padanya. Namun dia tak menghiraukannya, dia terus mendorongku hingga sampai di
kasir. Dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang pecahan Rp. 100.000,- an. Aku
kaget. Entah ini yg keberapa kalinya dia mengeluarkan lembar seratus ribu itu
dalam minggu ini hanya untuk jalan denganku. Aku merasa sangat merepotkannya. Setelah
selesai dari kasir, kami langsung ke basement. Dan meninggalkan gramedia untuk
makan. Yak! Ketika kami keluar, macet panjang sudah menunggu kami. Huh. Betenya.
***Bersambung***
Langganan:
Komentar (Atom)
