Tiba-tiba tak ku sangka, Roni meraih tanganku. Lalu dia
menaruh tanganku diperseneling sambil dia memeganginya. Kurasakan dinginnya
tangan Roni juga dingin sifatnya. Saat itu yg aku rasakan hanya kelembutan
tangannya. Jantungku berdegup makin cepat. Tak lama dia melepaskan tangannya.
Aku tersipu. Aku menyender dibahunya. Aku merasa sangat sempurna dan sangat
beruntung telah memilikinya saat itu.
Entah
apa yg bisa membuat kami menjadi sepasang kekasih. Aku pun tak mengerti. Semua terjadi begitu cepat. “Dew, mau
makan apa kita?” tanyanya pelan. Aku gugup. Masih terbayang wajahnya yg dingin
saat memegang tanganku tadi. Aku tak menjawab pertanyaannya. Dia mengulang
“Hei? Mau makan apa dew?" Dia menatapku. Tak sengaja pandanganku mengarah keluar
mobil. Di sebelah kanan jalan ada bis yg ingin menyerempet kea rah mobil Roni,
“Ron, awas itu di kanan!!!!” ujarku keras karna kaget. Dia langsung mengarahkan
setir kea rah kiri. Tidak keras memang. Namun, karena jalanan sangat padat.
Kami menabrak sebuah motor. Memang tidak cukup keras. Namun, ku lihat wajah
pengendara motor itu terlihat sangat marah.
Aku
memalingkan wajah untuk melihat wajahnya Roni, dia tampak panik. Raut wajahnya
berubah. Dari sikap acuh tak acuh menjadi tegang. Aku tak tega. Ku tenangkan
dia. Aku elus pundaknya yg hangat agar suasana hatinya berubah. Sesekali aku
pegang tangannya sambil terus menghiburnya. “Udah ya Ron jangan dipikirin,
itukan cuma kecelakaan semuanya juga pernah ngerasain kok”. Roni tersenyum
hangat padaku. Ku balas dengan lebih hangat. Aku meletakkan kembali kepalaku
dibahunya, dia membelai mesra rambutku. “Kita makan di Solaria aja ya Ron”.
Ucapku pelan. Roni hanya mengangguk setuju.
Ya
sekitar 45menit kami sampai di tempat tujuan. Roni seperti biasa parkir di
basement. Suasana basement sangat sepi. Aku menghela nafas lega. Fyuh. Roni
turun duluan, aku menyusul dibelakang. Kami menyusuri pertokoan yg ada di Mall
tersebut. Kami sampai di Solaria. Aku pilih kursi yg diluar. Roni memesan makanan.
Aku juga. Saat itu aku memesan Kwetiau Goreng dan Es teh manis, kalau Roni
lebih memilih untuk memesan Nasi Fuyunghai minumnya sama sepertiku.
Tak
lama kemudian pesanan datang, kami langsung menyantapnya. “Dew, kok meja
sebelah ngelirik sinis terus ya ke kita?” ucap Roni padaku sambil berbisik. Aku
menoleh sebentar kearah meja yg ditunjuk Roni. Memang. Orang yg ada dimeja itu
baru saja membuang mukanya dari arah meja kami berdua. “Gatau deh Ron, ngiri
kali gabisa pacaran kayak kita. Hahaha” candaku padanya. Dia hanya tersenyum
kecil. “Yuk kita makan yuk dew”. Aku menurut. Sambil makan, banyak obrolan yg
kami bahas, dari hal yg penting sampai yg tidak penting sekalipun. Kami juga
membahas tentang perjalanan kami waktu ke Purwakarta 2 pekan lalu.
Tiba-tiba
lewatlah sepasang kekasih, mereka bergandengan tangan mesra. Perempuan itu
menggunakan celana Hotpants. Aku meliriknya, lalu aku bertanya pada Roni, “Ron,
kalo gue pake celana kayak gitu, reaksi lo gimana?”. Roni langsung melihat ke
arah yg ku maksud. “Oh itu, lo mau gue gampar dew? Kalo mau sih silahkan aja”.
Katanya singkat. Aku hanya diam. Menatapnya sambil tersenyum. “Hahaha serius
Ron?” aku menggodanya, “Iyalah dew, kalo lo kayak gitu keliatan murahan bgt.
Lagipula tolol aja cowoknya, ceweknya gitu bukannya ditegur” ucapnya sewot.
“waktu kemaren lo pake celana pendek yg selutut itu gue sebenernya geregetan
tau ga sih dew”. Aku masih terdiam sambil terus memandangi wajahnya.
Aku
melanjutkan makan Kwetiau-ku. Baru setengah piring aku makan, tapi aku sudah
kekenyangan. Jadi aku menghabiskan Es Tea yg ku pesan saja. “Loh kok ga abis
dew?” tanya Roni. “gue udah kenyang banget nih, kalo dipaksain malah muntah
lagi”. Jawabanku tidak membuatnya puas, ada sedikit raut wajah kecewa yg
terlihat dari wajahnya. “Yaudah sini gue makan dew”. Ku sodorkan piringku
padanya. Baru 3 suap. Dia berhenti. “Kok ga diabisin aja Ron?” kali ini aku yg
bertanya. “Haha gapapa kok, kwetiau-nya agak gosong ya? Yaudah kalo gamau
dilanjutin makannya, daripada eneg”. Aku hanya mengangguk. Dia meneguk sisa Es
Tea digelasnya. Lalu memanggil waiter dan meminta bill pembayaran.
“Yah
duitnya lupa gue bawa lagi” ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya. “Trus mau
gimana? Mau gue ambilin atau gimana nih?” tanyaku. “Oh gausah dew, yg gue maksud
itu duit kembalian tadi. Kan sayang kalo mesti dipecahin lagi” katanya sambil
mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000,- an lagi. “Duh ngerepotin banget ya
gue”. Roni hanya menoleh padaku. Tak lama setelah waiter memberi kembalian,
kami langsung pulang. “Udah gausah dipikirin ya, yg penting kita hari ini
seneng-seneng”, ucapnya sambil mengelus-ngelus rambutku. Aku… hanya bisa
terdiam, kaku. Tidak bisa mengatakan apapun. Aku hanya merasakan aku beruntung
bisa memilikinya.
***Bersambung***

0 komentar:
Posting Komentar