Kamis, 06 September 2012

Kenangan! #Part2


          Tiba-tiba tak ku sangka, Roni meraih tanganku. Lalu dia menaruh tanganku diperseneling sambil dia memeganginya. Kurasakan dinginnya tangan Roni juga dingin sifatnya. Saat itu yg aku rasakan hanya kelembutan tangannya. Jantungku berdegup makin cepat. Tak lama dia melepaskan tangannya. Aku tersipu. Aku menyender dibahunya. Aku merasa sangat sempurna dan sangat beruntung telah memilikinya saat itu.
            Entah apa yg bisa membuat kami menjadi sepasang kekasih. Aku pun tak mengerti.  Semua terjadi begitu cepat. “Dew, mau makan apa kita?” tanyanya pelan. Aku gugup. Masih terbayang wajahnya yg dingin saat memegang tanganku tadi. Aku tak menjawab pertanyaannya. Dia mengulang “Hei? Mau makan apa dew?" Dia menatapku. Tak sengaja pandanganku mengarah keluar mobil. Di sebelah kanan jalan ada bis yg ingin menyerempet kea rah mobil Roni, “Ron, awas itu di kanan!!!!” ujarku keras karna kaget. Dia langsung mengarahkan setir kea rah kiri. Tidak keras memang. Namun, karena jalanan sangat padat. Kami menabrak sebuah motor. Memang tidak cukup keras. Namun, ku lihat wajah pengendara motor itu terlihat sangat marah.
            Aku memalingkan wajah untuk melihat wajahnya Roni, dia tampak panik. Raut wajahnya berubah. Dari sikap acuh tak acuh menjadi tegang. Aku tak tega. Ku tenangkan dia. Aku elus pundaknya yg hangat agar suasana hatinya berubah. Sesekali aku pegang tangannya sambil terus menghiburnya. “Udah ya Ron jangan dipikirin, itukan cuma kecelakaan semuanya juga pernah ngerasain kok”. Roni tersenyum hangat padaku. Ku balas dengan lebih hangat. Aku meletakkan kembali kepalaku dibahunya, dia membelai mesra rambutku. “Kita makan di Solaria aja ya Ron”. Ucapku pelan. Roni hanya mengangguk setuju.
            Ya sekitar 45menit kami sampai di tempat tujuan. Roni seperti biasa parkir di basement. Suasana basement sangat sepi. Aku menghela nafas lega. Fyuh. Roni turun duluan, aku menyusul dibelakang. Kami menyusuri pertokoan yg ada di Mall tersebut. Kami sampai di Solaria. Aku pilih kursi yg diluar. Roni memesan makanan. Aku juga. Saat itu aku memesan Kwetiau Goreng dan Es teh manis, kalau Roni lebih memilih untuk memesan Nasi Fuyunghai minumnya sama sepertiku.
            Tak lama kemudian pesanan datang, kami langsung menyantapnya. “Dew, kok meja sebelah ngelirik sinis terus ya ke kita?” ucap Roni padaku sambil berbisik. Aku menoleh sebentar kearah meja yg ditunjuk Roni. Memang. Orang yg ada dimeja itu baru saja membuang mukanya dari arah meja kami berdua. “Gatau deh Ron, ngiri kali gabisa pacaran kayak kita. Hahaha” candaku padanya. Dia hanya tersenyum kecil. “Yuk kita makan yuk dew”. Aku menurut. Sambil makan, banyak obrolan yg kami bahas, dari hal yg penting sampai yg tidak penting sekalipun. Kami juga membahas tentang perjalanan kami waktu ke Purwakarta 2 pekan lalu.
            Tiba-tiba lewatlah sepasang kekasih, mereka bergandengan tangan mesra. Perempuan itu menggunakan celana Hotpants. Aku meliriknya, lalu aku bertanya pada Roni, “Ron, kalo gue pake celana kayak gitu, reaksi lo gimana?”. Roni langsung melihat ke arah yg ku maksud. “Oh itu, lo mau gue gampar dew? Kalo mau sih silahkan aja”. Katanya singkat. Aku hanya diam. Menatapnya sambil tersenyum. “Hahaha serius Ron?” aku menggodanya, “Iyalah dew, kalo lo kayak gitu keliatan murahan bgt. Lagipula tolol aja cowoknya, ceweknya gitu bukannya ditegur” ucapnya sewot. “waktu kemaren lo pake celana pendek yg selutut itu gue sebenernya geregetan tau ga sih dew”. Aku masih terdiam sambil terus memandangi wajahnya.
            Aku melanjutkan makan Kwetiau-ku. Baru setengah piring aku makan, tapi aku sudah kekenyangan. Jadi aku menghabiskan Es Tea yg ku pesan saja. “Loh kok ga abis dew?” tanya Roni. “gue udah kenyang banget nih, kalo dipaksain malah muntah lagi”. Jawabanku tidak membuatnya puas, ada sedikit raut wajah kecewa yg terlihat dari wajahnya. “Yaudah sini gue makan dew”. Ku sodorkan piringku padanya. Baru 3 suap. Dia berhenti. “Kok ga diabisin aja Ron?” kali ini aku yg bertanya. “Haha gapapa kok, kwetiau-nya agak gosong ya? Yaudah kalo gamau dilanjutin makannya, daripada eneg”. Aku hanya mengangguk. Dia meneguk sisa Es Tea digelasnya. Lalu memanggil waiter dan meminta bill pembayaran.
            “Yah duitnya lupa gue bawa lagi” ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya. “Trus mau gimana? Mau gue ambilin atau gimana nih?” tanyaku. “Oh gausah dew, yg gue maksud itu duit kembalian tadi. Kan sayang kalo mesti dipecahin lagi” katanya sambil mengeluarkan selembar uang Rp. 100.000,- an lagi. “Duh ngerepotin banget ya gue”. Roni hanya menoleh padaku. Tak lama setelah waiter memberi kembalian, kami langsung pulang. “Udah gausah dipikirin ya, yg penting kita hari ini seneng-seneng”, ucapnya sambil mengelus-ngelus rambutku. Aku… hanya bisa terdiam, kaku. Tidak bisa mengatakan apapun. Aku hanya merasakan aku beruntung bisa memilikinya.


***Bersambung***

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar