Kami
berjalan menuju basement. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 21 lewat 30
malam. Padahal besok aku masih ujian semesteran tertulis. Tapi tak ku pikirkan
hari esok. Kami masuk mobil, dia menyalakan mesinnya. “Kak, gue hari ini seneng
banget loh!” kataku sok manja dan ku letakkan kembali kepalaku dipundaknya,
“Iya dew, gue juga seneng banget hari ini”. Dia mengelus pipiku lembut. Rasanya
aku tidak mau melewatkan tiap detik aku bersamanya. Hanya perlu berada
didekatnya saja aku sudah sangat bahagia. Aku bangun. Kepalaku menghampiri pipinya.
Ku kecup pipinya. “Tuhan, aku sayang dia. Aku cinta dia. Jika memang ini yg terbaik maka
permudahlah. Namun, jika bukan. Persulitlah. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana” selalu itu yg aku ucapkan setiap aku
berdoa.
Dia
kaget, aku hanya tersenyum manja, “Yuk pulang, besok kan gue masih Ujian,
hahaha” kataku sambil memasang Safety Belt. “Okeee! Tancapp!” katanya. Dia
mengemudikan kearah rumahku. “Oiya, nanti gue mau ketemu nyokap lo dulu ya.
Gaenak gue ngajak lo jalan pulang malem terus tapi gapernah ketemu nyokap lo”. Aku
menoleh, “Oke siap bos hehehe”. Dia mencubit pipiku. “Awww sakit tauu!” aku
membalas mencubit tangannya. Tak lama kemudian kami sampai dijalanan rumahku.
Dia memarkirkan mobilku diluar gang.
Kami
sama-sama turun, lalu aku mengambil tas dan keluar. Sambil menggandeng
tangannya kami berjalan menuju rumahku. “Assalamu’alaikum…” aku membuka pagar
dan ku ketuk pintu rumah. Mama membukanya, “Mah, ada Kak Roni mau ketemu dulu
katanya”. Mama keluar, “Yuk masuk dulu” kata mama, “Duh tante, gausah. Saya
cuma mau bilang aja maaf ngajak Dewi keluar malem terus nih. Dan maaf juga baru
bisa ketemu tante sekarang” ucapnya penuh kesopanan. Aku hanya tersenyum-senyum
sendiri melihat pacarku begitu gentle menghadapi mama.
“Iya
gapapa kok. Asal si Dewi ijin sama tante mah pasti tante bolehin. Apalagi
jalannya sama kamu. Tante gapapa”. Kulihat senyum tersimpul dr wajah Roni.
“yaudah tante saya pamit dulu ya. Udah malem juga”. Roni cium tangan mamaku.
“aku mau anterin Roni dulu ya mah kedepan” mama hanya meng-iyakan. Mama menutup
pintu, aku keluar dari pagar. “Hari ini full banget ya. Makasih udah nemenin
gue ke Toko Buku. Udah beliin bukunya. Dan udah nganterin gue balik” ucapku
padanya. Roni tersenyum. Aku mengantarnya sampai ujung gang. Kami berhenti. Aku
memandangnya, dia memandangku. Lalu, dia mencium keningku. Aku tersipu.
“Makasih banget ya dew buat malam yg indah ini. Walaupun cuma jemput lo pulang
sekolah, gue ga nyangka bakal seindah ini”. Aku tersenyum, lagi-lagi aku telah melewati beberapa waktu
bersama dia.
“udah
sana pulang. Udah malem nih. Nanti lo dicariin nyokap lo kak”. Dia menurut,
seperti biasa. Kalo dia berpamitan, aku selalu mencium tangannya. Entahlah.
Tapi itu caraku menghormatinya. Dia masuk kedalam mobil, lalu membuka kaca,
“gue pulang ya Dew, daaah” ucapnya sambil melambaikan tangan. Aku melambaikan
tangan juga padanya. Dia berlalu dan aku masuk kerumah lagi.
Tapi
sayang, saat aku menulis cerpen ini, hubungan kami sudah tidak lagi terjalin.
Kami sudah memutuskan untuk berpisah. Tapi kami masih menjaga agar hubungan
kami tetap baik. Dan aku masih melewati waktu-waktu yang sangat sulit ku lalui
tanpa dia. Sebuah keputusan yg cukup menyakitkan. Tapi yasudahlah, itu sudah
menjadi keputusan kami. Terhitung dari saat kami putus, ini adalah bulan kedua
yg ku lalui tanpa dia. Tapi, aku harus mampu melewatinya. Aku harus bisa tanpa
dia ☺.
Sulit memang, tapi aku harus melakukannya. Karna cepat atau lambat kami pasti akan
berpisah. Mamaku sangat menyayangkan hubungan kami yg sudah berakhir.
Tapi ya sudahlah ☺
With
all this pain,
Intan♥

0 komentar:
Posting Komentar