Jakarta, 7 Juni 2012.
Hari
pertama Ujian Semester yg akan aku hadapi. Tak hanya teori hari ini, tapi aku
harus ujian praktek Seni budaya juga. Fuh. Tegangnya. Walaupun ada yg
menyemangatiku dari jauh. Iya dia. Kekasihku. Roni namanya, aku dan dia memang baru
menjalani hubungan ini. Ya belum genap sebulan lah kami berpacaran. Dia terus
menyemangati dari awal aku berangkat sekolah. Rencananya, hari ini aku dan dia
mau ke Toko Buku Gramedia, ya sekalian baca buku untuk bahanku presentasi
fotografi besok.
Tepat
pukul 11, ujian teoriku selesai. *Jengjeng*
tinggal ujian prakteknya. Aku grogi. Aku gugup. Fuh. Ku tarik nafas
dalam-dalam. Tepat pukul 13.00 WIB, ujian praktek itu akan dilaksanakan. Aku
masih punya waktu untuk menghapal beberapa gerakan, “Dew, ayok giliran kelompok
kita nih”. Zahra memanggilku. Dia leader kelompok kami. Dugdugdug suara
jantungku berdegup makin cepat.
***
“Fyuh,
akhirnya kita bisa nyelesein semuanya sukses ya!” Ucap ketua kelasku, Reva.
Roni sudah daritadi menungguku di gerbang. Entahlah, mungkin dia sudah mulai
bosan menungguku. Aku menunggu hingga kelasku selesai berfoto. Setelah semua
acara selesai, aku pamit pulang. Aku keluar gerbang bersama temanku, Sofi.
“Sof, caw yuk sekarang, Roni udh nunggu gue daritadi. Gaenak nih. Gue juga
takut kemaleman”. Sofi hanya mengangguk dan mengikutiku. Kami keluar lapangan
sekolah menuju gerbang. Ternyata di madding dekat pos satpam ada hal yg menarik
untuk Sofi liat, sehingga Sofi berminat untuk membacanya. Aku meninggalkan
Sofi. “Sof, gue duluan yaaaa. Kasian Roni udh nungguin”. Ucapku sambil
meninggalkannya, “oke dew, lo hati-hati yaaa”. Aku berjalan menjauh dr madding
sekolah. Tak jauh dr halte, ku lihat mobil Nissan Grand Livina silver parkir
disana, “nah! Itu dia” ucapku dalam hati.
Ku
buka pintu mobilnya, dan ku lihat senyum merekah dibibirnya. Manisnya. Pikirku
dalam hati. “Hai! Udah lama nunggu ya? Maaf ya. Tadi ada rapat dulu soalnya”.
Kataku sambil memasuki mobil, aku menutup pintu. Dia pun menyalakan mobil.
“ngga kok, hehe lo udah makan?”, ucapnya sambil mengendarai mobil itu menuju
tempat tujuan kami. Aku hanya menggeleng. “kenapa belum makan dew?” tanyanya
lagi. “tadi ga sempet Ron. Hehe. Lo udah kan?”. Aku balik bertanya. “udah kok
tadi pas mau kesini makan dulu. Nanti makan ya”. Aku hanya mengangguk. Ku setel
playlist yg ada di playernya. Untuk menemani perjalanan kami. Tak lama memang.
Cukup 45 menit untuk sampai.
Kami
parkir di basement. Karna parkiran atas penuh. Setelah Roni memarkirkan
mobilnya, kami turun. Memang inilah hubungan kami. Sangat dingin. Ini semua
karna Roni baru 2kali berpacaran sampai saat ini. Makanya, aku tak heran jika
sikapnya dingin dan kaku padaku. Kami langsung ke lantai 2 mencari buku
fotografi yg aku cari. Aku membaca 2 buku. Ku buka setiap halamannya. Karna
memang saat itu aku sedang tidak membawa uang lebih. Jadi, ku putuskan hanya
membaca saja. Ketika jam sudah menunjukan pukul 5 lewat 30 menit, Roni bertanya
padaku, “Dew, lo udah selesai belum? Kalo udah yuk cabut. Kan lo juga belom
makan”. Aku hanya nurut dan mengembalikan buku yg ku baca tadi ke rak semula.
Namun, tiba-tiba Roni mengambil 1 buku yg masih di plastik rapid an menyuruhku
memegangnya, “Nih pegang, kita ke kasir. Bayar. Trus pulang ya” katanya sambil
mendorong bahuku meninggalkan rak fotografi itu.
“Hah?
Apaan sih? Duit gue ga cukup tau. Gue jg ga niat mau beli sekarang” ucapku
padanya. Namun dia tak menghiraukannya, dia terus mendorongku hingga sampai di
kasir. Dia mengambil dompet dan mengeluarkan uang pecahan Rp. 100.000,- an. Aku
kaget. Entah ini yg keberapa kalinya dia mengeluarkan lembar seratus ribu itu
dalam minggu ini hanya untuk jalan denganku. Aku merasa sangat merepotkannya. Setelah
selesai dari kasir, kami langsung ke basement. Dan meninggalkan gramedia untuk
makan. Yak! Ketika kami keluar, macet panjang sudah menunggu kami. Huh. Betenya.
***Bersambung***

0 komentar:
Posting Komentar